Hukum Bid’ah

Assalamualaikum warahmatullahi wabrakatuh

Dalam menyikapi bid’ah terdapat dua pandangan berbeda yang saling kontradiktif. Ada yang menyikapinya dengan mengatakan bahwa hukum bid’ah adalah mutlak haram. Ada juga yang mengatakan bahwa hukum bid’ah ada yang halal dan ada pula yang haram.

Pandangan yang mengatakan bahwa bid’ah hukumnya mutlak haram adalah golongan Wahabi, sedangkan pandangan yang mengatakan bahwa bid’ah ada yang halal danada yang haram ialah golongan ahlus sunnah wal jamaah.

Bid’ah Menurut Golongan Wahabi

Sebagai telah sedikit disinggung sebelumnya bahwa menurut wahabi, bid’ah merupakan perbuatan yang mutlak haram dan perbuatan yang seperti itu tidak boleh dilakukan oleh siapapun. Bagi pelakunya dijamin masuk neraka.

Hal seperti itu dikemukakan oleh para tokoh-tokoh wahabi terkemuka, diantaranya ialah Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah bin Bazz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani.

Mereka menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu pasti masuk neraka. Hal ini berdasarkan pemahaman mereka terhadap hadis Rasulullah saw. yang  berbunyi, كل بدعة ضلالة “setiap bid’ah itu sesat”

Menurut golongan Wahabi, setiap perbuatan yang tergolong bid’ah adalah sesat dan haram dilakukan. Wahabi tidak sependapat dengan kebanyakan para ulama yang berpendapat bahwa bid’ah itu bisa terbagi atas beberapa bagian, yaitu bid’ah yang baik (bid’ah mahmudah hasanah) dan bid’ah yang tercela (bid’ah mazhmumah).

Bid’ah Menurut Golongan Ahlus Sunnah Wal jamaah

Sebagaimana tertulis pada sub bab sebelumnya, bahwa selain wahabi, hukum bid’ah terbagi-bagi, ada yang halal dan ada yang haram. Pendapat ini mengacu pada kebanyakan pendapat ulama ahlus sunnah wal jamaah.

Dalam memastikan hukum bid’ah ini, sebaiknya kita merujuk pada hadis Rasulullah saw. yang pernah beliau sampaikan pada waktu khutbah jumat saat beliau melaksanakan ibadah haji Wada’. Rasulullah saw. bersabda yang artinya:

“dari Jabbir bin Abdullah ra. berkata: “sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan seutama-utamanya petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejelek-jeleknya perkara ialah yang memperbaharuinya dan setiap yang baru ialah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat masuk neraka.” (HR. Ahmad)

Untuk mengetahui makna kata bid’ah pada hadis tersebut, dibutuhkan kehati-hatian, ketelitian, dan kejelian agar mengetahui maksudnya dengan benar. Kata bid’ah disini mengandung makna muhdatsaatuha.

Muhdatsaatuha artinya ialah membuatnya menjadi baru dalam arti memperbaiki Kitab Allah dan hadis Rasulullah saw,sehingga menjadi berubah dan rusak ajarannya, kemudian menjadi sebuah ajaran baru yang bertentangan dan tidak termasuk dalam ajaran Rasulullah saw.

Jadi tidak semua bid’ah itu sesat, akan tetapi hanya bid’ah yang sifatnya al-Muhdatsat saja. Sebagaimana dalam hadist Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dari sayyidatina Aisyah ra. memberi keterangan tentang hal tersebut dengan sabdanya yang bermakna:

“Barangsiapa yang merubah permasalahan agamaku sehingga menjadi ajaran yang tidak terdapat dalam ajaranku maka ajaran itu tertolak.”

Terjemah dari hadis di atas mengandung makna yang sangat transparan, yaitu bid’ah dalam permasalahan agama (al-Amr al-Diniyyah) saja yang dilarang. Sedangkan mengada-ada perkara baru dalam soal dunia diperbolehkan, karena hukum asal perkara dunia pada mulanya boleh (mubah). Dengan kata lain bid’ah dalam urusan dunia boleh.

Nah mengada-ada (bid’ah) dalam urusan agama ada dua bagian, yaitu bid’ah muhdatsat dan bid’ah ghairu muhdastat. Nah pembahasan mengenai keduanya akan kami bahas pada kesempatan yang lain.

Pada pembahasan ini kami hanya membahas mengenai hukum dari bid’ah, yaitu ada yang diperbolehkan dan ada pula yang diharamkan. Bid’ah terbagi menjadi dua macam yaitu bid’ah muhdatsat dan bid’ah ghoiru muhdatsat.

Demikian yang dapat kami sampaikan, atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan dan ilmu bagi para pembaca sekalian.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tags: